Minggu, 17 Juni 2012

SURAT EDARAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 6 TAHUN 1994 TENTANG SURAT KUASA KHUSUS


SURAT EDARAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 6 TAHUN 1994 TENTANG SURAT KUASA KHUSUS


MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA
Jakarta, 14 Oktober 1994
Nomor : MA/KUMDIL/288/X/K/1994

Kepada Yth:
1. Sdr. Ketua Pengadilan Tinggi
2. Sdr. Ketua Pengadilan Tinggi Agama
3. Sdr. Ketua Pengadilan Tinggi TUN
4. Sdr. Ketua Pengadilan Negeri
5. Sdr. Ketua Pengadilan Agama
6. Sdr. Ketua Pengadilan TUN
di
seluruh Indonesia.
SURAT EDARAN NOMOR 6 TAHUN 1994
Untuk menciptakan keseragaman dalam hal pemahaman terhadap Surat Kuasa Khusus yang diajukan oleh para pihak beperkara kepada Badan-badan Peradilan, maka dengan ini diberikan petunjuk sebagai berikut:
  1. Surat Kuasa harus bersifat khusus dan menurut Undang-undang harus dicantumkan dengan jelas bahwa surat kuasa itu hanya dipergunakan untuk keperluan tertentu,
    misalnya:
    a. dalam perkara perdata harus dengan jelas disebut antara A sebagai Penggugat dan B sebagai Tergugat, misalnya dalam perkara waris atau hutang piutang tertentu dan sebagainya.
    b. Dalam perkara pidana harus dengan jelas menyebut Pasal-pasal KUHAP yang didakwakan kepada terdakwa yang ditunjuk dengan lengkap.
  2. Apabila dalam surat kuasa khusus tersebut telah disebutkan bahwa kuasa tersebut mencakup pula pemeriksaan dalam tingkat banding dan kasasi, maka surat kuasa khusus tersebut tetap sah berlaku hingga pemeriksaan dalam kasasi, tanpa diperlukan suatu surat
    khusus yang baru.
Demikian untuk diperhatikan.
KETUA MAHKAMAH AGUNG RI
Cap/Ttd.
H.R PURWOTO S. GANDASUBRATA, SH.
Tembusan:
1. Yth. Sdr. Wakil Ketua Mahkamah Agung RI.
2. Yth. Sdr. Para Hakim Muda Mahkamah Agung RI.
3. Yth. Sdr. Para Hakim Agung Pengawas Daerah.
4. Yth. Sdr. Panitera/Sekretaris Jenderal Mahkamah Agung RI.
5. Arsip.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar